Selasa, 24 Juli 2012

ORANG-ORANG SEBERANG KALI (Karya Ahmad Tohari)


ORANG-ORANG SEBERANG KALI
Oleh: Ahmad Tohari

Kami menyebut mereka orang orang seberang kali. Terlalu berlebihan sebenarnya karena mereka tinggal tidak lebih dari seratus meter dari kami. Dan yang disebut kali itu sebenarnya hanya sebuah parit alam yang dalam. Kedua tebingnya curam dan penuh ditumbuhi pakis pakisan, hanya di tempat-tempat tertentu air parit itu kelihatan dari atas. Bening, karena keluar langsung dari mata air. Tapi air itu jadi tidak menarik karena dikotori banyak sekali sampah daun bambu serta substansi apa namanya yang berwarna kuning sekali. Kami menyebutnya kotoran kuning atau tahi besi.
Orang-orang seberang kali itu betapa jua adalah bagian dari warga desa kami. Tapi memang, kami merasa punya jarak dengan mereka. Dan sebuah titian batang pinang yang harus kami lalui bila kami ingin pergi kepada mereka seakan menjadi simbol bagi jarak itu. Ah, sebuah titian yang tak pernah luput dari kotoran anak-anak mereka. Di bawahnya banyak sekali kepiting batu berfoya dengan makanan lunak sepanjang hari. Pada musim kemarau kepiting lenyap entah ke mana. Air kali kecil sekali. Dan kakus orang-orang seberang kali itu menjadi tempat yang meriah bagi burung-burung sikatan dan kadal. Mereka berpesta makan lalat.
Lalu kalian mengira titian batang pinang jarang dilalui orang karena siapa saja akan takut tergelincir dan melayang dua meter ke bawah lalu hinggap di atas pasta kuning? Tidak. Itu perkiraan salah. Selain orang-orang seberang kali sendiri banyak orang luar lalu-lalang di atas titian itu. Orang-orang luar itu bukan dari kami. Mereka datang entah dari mana. Yang jelas mereka selalu melewati titian batang pinang sambil mengepit atau menjinjing ayam jago. Begitu. Orang-orang seberang kali ini memang menganggap adu jago adalah bagian terpenting dalam hidup mereka. Di sana, Madrakum menjadi botoh-nya.
Bisa jadi karena soal adu ayam itulah maka terbentang jarak antara kami dengan mereka. Kami memang tidak pernah main adu-aduan. Bisa juga karena banyak di antara kami beberapa kali kehilangan ayam. Ah, anak-anak orang di seberang kali itu juga sudah pintar bermain ayam. Dengan cara mencuri-curi, anak-anak mereka suka mongadu ayam kami yang sedang berkeliaran di pekarangan dengan ayam mereka tentu saja. Selagi berlaga, ayam siapa pun akan gampang ditangkap.
Lucunya, kami tidak bisa melupakan jasa orang orang seberang kali, terutama karena ayam ayam Jago mereka. Setiap fajar seakan menjadi milik orang seberang kali karena jago mereka selalu berkokok lobih awal dan jago siapa pun, bahkan lebih awal dari kokok muadzin di surau kami. Maka yang terjadi setiap fajar, muadzin surau kami dibangunkan oleh ayam jago orang seberang kali. Begitu. Di sana kokok ayam jantan, di sini seruan takbir. Di sini orang-orang pulang dari surau, di sana orang orang jongkok sambil mengelus-elus ayam jago.
Kecuali Rabu kemarin. Kemarin kami pulang dari surau kala pagi masih remang oleh kabut, ada orang seberang kali sudah berdiri di halaman rumahku.
"Lho, Kang Samin?" tanya saya sesudah dekat benar.
"Iya, Mas."
"Gasik betul. Ada apa rupanya? Dan apakah ayammu sudah dirawat?"
"Kali ini jangan bicara soal ayam, Mas. Saya mau minta tolong, dan ini amat penting."
"Oh, maafkan saya."
"Anu, Mas. Mbok sampean mau pergi ke rumah Madra­kum, sekarang. Jenguklah dia. Kasihan, Mas."
"Kang Madrakum, kenapa dia?"
"Sakit. Dia sedang sakit dan saya kira sudah hampir mati. Sebenarnya kalau dia hanya mau mati, ya mati saja. Ini lain Mas."
"Sakit, mati, lain. Bagaimana Kang Samin?"
"Begini. Madrakum memang sudah agak lama sakit. Dan sejak tiga hari yang lalu dia mulai sekarat. Tapi ya itu, Mas. Wong mau mati saja kok sekaratnya lama betul. Kami yang melihatnya, lama-lama jadi tidak tahan."
Pagi masih terang. Aku dan Kang Samin masih berdiri di halaman. Aku melihat ada kampret masuk ke lubang dalam pokok kelapa. Ada ayam betina ngukruk membimbing anak-anaknya keluar dari kandang. Di belakangku, bunga mulai dirubung lebah. Dan mimik kang Samin jadi kelihatan jelas.
Kang Samin terus berbicara. Bahwa Madrakum sudah memperlihatkan semua tanda datangnya kematian; daun telinga yang terkulai, bau mayat yang khas, dan roman muka yang sudah lain sama sekali.
"Tapi ya itu, Mas. Madrakum awet benar. Heran, nyawa-nya demikian betah dalam tubuh Madrakum yang melarat."
"Kan ajal di tangan Tuhan, Kang."
"Lha iki iya. Aku juga tahu semua orang akan mati. Tapi kukira tidak seperti Madrakum. Lagi pula, Mas. He-he. Hari-hari mi cuaca amat bagus. Sayang si Madrakum itu tidak mati juga."
"Orang mati takkan memilih cuaca."
"Lha iya. Tapi tamu-tamu kami akan selalu mempertimbangkan cuaca. He-he. Mengadu ayam dalam hujan, mana bisa. He he."
Untuk saudaraku orang-orang dari seberang kali ini aku hanya bisa tersenyum dan menggerakkan kepala. Lalu Kang Samin mengulangi permintaannya, agar aku pergi menje-nguk Madrakum si botoh adu ayam dari seberang kali itu.
"Anu, Mas. Orang orang seperti sampean kan mengerti bagaimana cara membual, orang sekarat cepat mati."
"Aku mengerti maksudmu. Membacakan Surah Yassin, kan? Tapi jangan keliru. Ajal di tangan Tuhan."
"Lha iya, lha iya. Soalnya aku belum pernah melihat orang sakit yang sudah bau mayat bisa sembuh kembali. Apalagi si Madrakum itu, pasti dia sudah dekat ajal."
"Baik. Silakan pulang dulu. Aku segera menyusul."
Ketika aku melewati titian batang pinang itu hari sudah benar-benar terang. Pakis-pakisan di tebing parit hijau dan segar dengan tetes-tetes embun di puncak-puncaknya. Segar seperti perawan yang basah rambutnya setelah mandi keramas. Kulihat seekor burung sikatan terbang mengejar betinanya. Keduanya lalu heboh dalam rumpun bambu. Ada daun bambu yang luruh karena huru-hara itu, lalu melayang masuk ke dasar parit. Di depanku ada dua perempuan berdiri, menunggu sampai aku mencapai seberang. Mereka tentu saja akan jongkok di atas titian. Tetapi aku tidak bisa melihat kepiting-kepiting batu. Dasar parit masih gelap.
Di rumah Madrakum sudah ada enam atau tujuh lelaki. Tetapi yang terbanyak dari mereka kulihat sedang jongkok di halaman, mengelilingi kurungan jago. Ayam jago milik Madrakum ada beberapa ekor. Satu di antaranya adalah yang terbaik di seberang kali itu, demikian yang kudengar. Aku masuk diiringi Kang Samin. Kamar si sakit masih seperti malam, jadi masih ada pelita berkelip. Ya, mataku yang awam dapat melihat keadaan Madrakum memang sudah payah. Aku sependapat dengan Kang Samin; Madra­kum dalam keadaan sekarat. Sekarat Madrakum memang lain. Si sakit yang kelihatannya sudah demikian lemah, kadang mendadak jadi penuh tenaga. Kedua kakinya men-cakar-cakar, kedua tangannya mengepak epak. Kemudian diam dan melemah lagi. Dan dari rongga mulutnya terdengar suara aneh.
Aku duduk di atas kursi dekat kepala Madrakum. Kang Samin membuka jendela singkap yang harus selalu ditopang dengan sebilah kayu. Kang Samin menduga aku akan membaca kitab. Dia tidak tahu aku hafal Surah Yassin di luar kepala. Orang-orang seberang kali ternyata bisa menciptakan hening ketika aku membacakan ayat-ayat suci. Tapi ayam-ayam jago mereka tidak. Maka suaraku sering tenggelam oleh suara kokok jago yang bersahutan tak henti-hentinya. Selesai dengan bacaan suci, aku bangkit. Aku permisi pulang hendak menyampaikan berita perikeadaan Madrakum kepada teman-temanku. Sebelum itu, doaku buat Madrakum sekali lagi disambut dengan keheningan.
Yang pertama kulakukan setelah sampai kembali ke rumah adalah memberitahukan keadaan Madrakum kepada istriku sendiri. Lalu aku keluar hendak menghubungi tetangga kiri-kanan. Tapi baru mendapat satu rumah aku harus menghentikan niat. Kang Samin muncul. Langkahnya panjang-panjang.
"Wah, Mas. Terima kasih. Kang Madrakum sudah tiada. Sungguh-sungguh sudah mati dia. Terima kasih, Mas."
"Inna lillahi."
"Ya. Tapi ya itu, Mas. Sekali Madrakum tetap Madrakum. Dia suka aneh-aneh saja," kata kang Samin sambil terse­nyum.
"Kamu menertawakan saudara yang baru meninggal?"
"Maksudku bukan begitu. Aku hanya mau bilang, Madra­kum suka aneh-aneh. Itu saja."
Maka sambil senyum-senyum, Samin bercerita tentang kerabatnya di seberang kali itu. Katanya, tidak lama selelali aku mengundurkan diri Madrakum bangkit. Turun dari balai-balai, Madrakum berdiri dengah gagah. Lalu dia membuat gerakan-gerakan persis ayam jago sedang menggombal betinanya. Tidak hanya itu. Madrakum kemudian keluar halaman, lagi-lagi berdiri dengan megah. Matanya liar. Kedua tangannya mengembang untuk membuat gerakan gerakan mengepak. Kaum kerabat yang terpana dibuat lebih kecut karena kemudian Madrakum berkokok berkali-kali. Suaranya demikian mirip dengan binatang yang dipeli-haranya sehingga semua ayam jago di seberang kali menyahutnya berganti-ganti. Tapi semuanya segera berakhir ketika Madrakum kemudian jatuh melingkar di tanah. Mati.

1 komentar:

Berkomentarlah dengan bijak. :)