Selasa, 24 Juli 2012

MMK (Karya Putu Wijaya)


MMK
Cerpen: Putu Wijaya

Sumber: Media Indonesia,  Edisi 03/02/2003 

SEORANG anak bertanya kepada neneknya:
"Nenek,... itu apa?"
Perempuan tua itu ternganga. Sebelum dia sempat membuka mulut, pertanyaan itu berkembang.
"Nenek punya... tidak?"
Orang tua itu kontan shock. Tetapi cucunya terus juga bertanya.
"Sekarang Nenek punya berapa ...?"
Karena tak kuat menahan kekurangajaran itu, nenek itu langsung pergi meninggalkan cucunya. Ia mengungsi ke rumah tetangga.
Ketika anak dan menantunya pulang, ia langsung melapor sambil menangis.
"Anakmu kurang ajar. Pengaruh film, televisi, pergaulan bebas, dan narkoba sudah membuat dia bejat. Ajari anakmu moral, jangan hanya dikasih duit! Mau jadi apa dia nanti kalau sudah besar? Setan?"
Menantu nenek, ibu anak itu langsung mencari anaknya. Tanpa bertanya lagi anak itu langsung diberinya hukuman.
"Kamu sudah kurang ajar kepada nenek, mulai sekarang duit uang makan kamu dikurangi, sampai moral kamu lebih baik. Kamu harus belajar menghormati orang tua. Orang tua itu adalah asal muasal dan cikal bakal kamu, kamu sama sekali tidak boleh membuat orang tua marah. Sekali lagi kamu kurang ajar, ibu kirim kamu ke desa! Tidak usah membela diri!"
Anak itu tidak berani menjawab. Tetapi ketika keadaan menjadi lebih tenang, dia menghampiri bapaknya, lalu kembali menanyakan
pertanyaan yang belum terjawab itu.
"Pak, -- itu apa?"
Bapak anak itu terkejut. Cangklong yang sedang diisapnya sampai terlepas. Tetapi ia mencoba tenang, lalu menjawab dengan taktis diplomatis:
"Rambut adalah mahkota semua manusia..... itu adalah mahkota wanita. Tempat dari mana kamu keluar dan ke mana nanti kamu akan masuk. Jadi ia mengandung pengertian sakral. Karena itu kamu tidak  boleh mengutak-atik. Kamu harus menghormatinya. Dan,berhenti menanyakan itu, karena itu tidak untuk dikupas tetapi dirasakan. Paham?!"
Anak itu tidak paham. Pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah, ia mendekati ibunya yang sedang menerima tamu. Ibunya langsung mengangkat tangan.
"Tidak bisa!"
Anak itu tertegun.
"Aku tidak minta duit. Aku hanya mau tanya, apakah – ibu besar? Sebab, kalau tidak besar bagaimana nanti bisa keluar masuk? Kira-kira ukurannya berapa meter?"
Merah padam muka perempuan itu.  Sedangkan tamunya, ibu-ibu pejabat tak bisa menahan diri lalu tertawa sampai terkencing-kencing."
Anakmu sakit jiwa, karena kamu kurang perhatian. Kamu terlalu sibuk
bekerja dan menganggap mendidik anak itu hanya kewajiban perempuan. Ini dia akibatnya sekarang!"
kata ibu anak itu menyalahkan suaminya.
"Sekarang sebelum terlambat, lebih baik kamu bawa dia ke dokter jiwa.
Kalau tidak akan jadi apa anak ini! Akan jadi apa negeri ini kalau generasi mudanya sudah kurang ajar dan krisis moral?"
Bapak anak itu tidak setuju dengan istrinya. Ia mencoba untuk melakukan pendekatan lain. Ia membawa anak itu ke kebun binatang.
"Kamu bertanya apa itu mmk?"
bisiknya kepada anaknya.
"Nah, itu dia yang namanya mmk!"
Bapak anak itu menunjuk kepada binatang-binatang yang ada di depannya.
Ada kuda, badak, harimau, gajah, monyet."
"Itu yang namanya mmk. Mengerti?!"
Anak itu terdiam. Tetapi bukan karena mengerti. Ia bertambah bingung. Dalam perjalanan pulang ia kembali  bertanya.
"Apakah mmk itu manis sehingga sering dijilat-jilat?"
"Bangsat!"
teriak bapak anak itu di dalam hati.Ia membatalkan pulang, langsung membawa anaknya ke dokter jiwa.
"Dokter, anak saya ini sudah bejat. Tolongdiperiksa apakah dia sudah d apat gangguan jiwa. Sebabsegalanya sudah kami penuhi dengan  berkecukupan. Sandang, pangan, bahkan sekolah yang terbaik dan
termahal kami berikan. Mengapa dia jadi tumbuh seperti  setan begini?"
Dokter jiwa itu lalu memanggil anak itu masuk ke dalam kamar periksa.
Dua jam kemudian dia keluar.
"Bagaimana Dok?"
"Saya kira anak Bapak sehat walafiat."
"Maksud saya jiwa dan moralnya?!"
"Ya, bagus. Saya hanya ada nasihat kecil."
"Apa Dok?"
"Semua anak sampai usia tertentu seperti sebuah cermin. Dia merefleksikan dengan objektif apa yang ada di sekitarnya. Anak adalah pantulan langsung dari lingkungan dan orang tuanya. Jadi.... "
"Jadi apa Dok?"
"Anak itu masih punya ibu?"
"Ada di rumah, kenapa Dok?"
"O, bagus kalau begitu. Jadi sebaiknya, sebelum saya melanjutkan pemeriksaan kepada anak itu, saya anjurkan supaya Bapak dan Ibu saya periksa terlebih dahulu. Makin cepat makin baik, sebelum menginjak ke stadium berikutnya."
Kontan bapak anak itu pergi.
"Dokter gila!"
umpatnya sambil membawa anaknya pulang.
"Dasar mata duitan, anak gua yang bermasalah, gua yang mau dikobel-kobel. Kenapa bukan para elite politik yang sudah bikin kisruh negara ini saja yang mereka tuduh sebagai penyebab krisis moral anak ini. Gelo!"
Suhu politik memanas. Para elite politik berperang. Dolar melambung tinggi. Persoalan itu untuk sementara dibekukan. Tapi, beku tentu saja tidak berarti sudah berakhir. Pertanyaan itu masih terus berkecamuk di kepala anak itu.
Di sekolah, menjelang peringatan Hari Proklamasi ke-56, ketika guru sedang menceritakan tentang hakikat kemerdekaan, anak itu terus dikejar-kejar oleh pertanyaan tersebut.
"Kemerdekaan adalah sikap jiwa,"
kata ibu guru menerangkan kepada murid-muridnya.
"Bila kemerdekaan kita diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945,
jangan dikira itu terjadi begitu saja. Cita-cita kemerdekaan sudah berlangsung puluhan tahun. Secara sporadis meledak di sana-sini yang dikategorikan sebagai pemberontakan oleh kolonial. Akhirnya mendapat
kesimpulan pada tahun 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Dan, akhirnya mulai mendapatkan perumusan pada 1928, pada saat ada ikrar Sumpah Pemuda. Jadi kemerdekaan itu anak-anak, bukan hanya sebuah teriakan kebebasan, tetapi sebuah proses penyadaran tentang kemandirian. Dengan merdeka berarti nasib kita terletak di tangan kita sendiri. Dengan merdeka pada 17 Agustus 1945, tidak berarti kita jadi langsung kaya raya dan bahagia. Dengan merdeka kita justru menjadi melihat kemiskinan dan keterbelakangan kita. Kita melihat tanggung jawab kita. Dengan merdeka kita terikat oleh berbagai aturan yang kita buat sendiri untuk membatasi kemerdekaan kita agar bisa hidup bersama-sama. Merdeka adalah mendisiplinkan diri kita sendiri supaya bisa bekerja dan bersaing. Kalau tidak ada batasan-batasan, negeri ini akan jadi rimba dan memberlakukan hukum rimba, siapa kuat dia yang kuasa. Siapa yang kuasa dia yang makan. Jadi, kemerdekaan bukanlah kesempatan untuk berbuat sewenang-wenang. Kemerdekaan adalah pengorbanan karena itu merupakan penyadaran kepada aturan-aturan dan ketidakbebasan, yang kita sepakati dengan rela."
Bu guru selesai. Ia memandang seluruh kelas.
"Ada yang belum jelas? Siapa yang mau bertanya?"
Anak itu langsung mengacungkan tangannya.
"Ya kamu. Apa yang belum jelas?"
"Saya mau tanya, Bu."
"Ya boleh. Menanyakan apa?"
"Mmk itu apa?"
Bu guru terhenyak. Seluruh kelas yang semula tidur tiba-tiba terbangun. Kemudian terdengar suara riuh rendah oleh  ketawa. Kelas berubah menjadi pasar.Bu guru mengetokngetokkan penghapus papan tulis ke mejanya dengan keras.
"Tenang!!!"
Anak-anak langsung mengunci mulutnya. Bu guru kemudian bertanya lagi.
"Apa?"
"Saya mau tanya, mmk itu apa??"
Mata bu guru yang cantik itu terbelalak. Seluruh kelas yangtadinya cekakakan, sekarang tiba-tiba tegang. Bu guru menghampiri anak yang bertanya itu. Ia memandang tepat ke arah matanya. Anak itu gugup lalu menundukkan mukanya.
"Ini pelajaran sejarah kemerdekaan dan kamu bertanya tentang...."
"Mmk."
Seluruh keras bertambah tegang.
Terdengar bisik-bisik. Bu guru cepat melayangkan matanya ke seluruh keras sambil melotot. Semua murid menunduk menyembunyikan dirinya. Tak seorang pun kelihatan mau hadir. Hanya anak itu yang masih mengangkat kepalanya.Bu guru menghampiri anak itu, lalu menatap tajam seperti menusuk jiwanya.
"Jadi itu yang buat kamu belum jelas?"
"Ya."
"Kamu bertanya karena kamu tidak tahu atau?"
"Karena saya bingung."
"Kamu bingung karena kamu ingin tahu?"
"Karena jawabannya tidak tegas sehingga tidak jelas."
Pensil ditangan bu guru jatuh ke lantai. Bu guru berjongkok. Seluruh
anak-anak di dalam kelas, berdiri, menjulurkan kepalanyadan melihat apa yang jatuh. Tiba-tiba bu guru berdiri lagi sambil mengangkat roknya. Dari pinggang sampai ke bawah  ia telanjang bulat.
"Mmk itu ini!"
katanya dengan tegas sambil menunjuk ke arah alat kelaminnya. Seluruh kelas meledak. Anak-anak perempuan menjerit dan menangis. Yang laki-laki meloncat, lari ketakutan keluar kelas. Sedangkan anak yang bertanya itu seperti disiram air panas. Seluruh tubuhnya tegang dan kemudian basah. Peristiwa itu dicatat sekolah sebagai huru-hara yang memalukan. Ibu guru yang cantik itu langsung dipanggil oleh Kepala Sekolah, lalu diskors. Para orang tua murid protes. Mereka menuntut supaya bu guru itu dipecat. Dan malammalam, rumah bu guru itu berantakan karena dilempari batu. Surat kaleng dan telepon gelap dengan ancaman mengerikan menghujani rumahnya. Akhirnya Bu Guru MMK itu dipecat. Tapi sebagian masyarakat, berdasarkan polling yang dilakukan oleh media massa, menganggap hukuman itu belum setimpal. Mereka menuntut supaya guru yang bejat itu hengkang dari permukiman mereka. Dan, ketika yang bersangkutan akhirnya boyongan pindah ke kota lain, karena tidak  mau mengganggu ketenteraman, di luar kota mobilnya dicegat. Dia dirampok, diperkosa, dan kemudian dicampakkan ke tepi jalan dalam keadaan tidak bernyawa. Di sebuah desa kecil yang terpencil dan sunyi, kini ia terbaring bisu, di bawah batu nisan yang tak bernama. Anak yang bertanya itu, bersimpuh sambil memegang sekuntum bunga. Di sampingnya, kedua orang tuanya berdiri menemani.
"Terima kasib Bu Guru. Karena keberanian dan kejujuranmu, sekarang anak kami tidak bertanya lagi. Tetapi alangkah mahalnya kebenaran, kalau hanya untuk menjelaskan satu kata saja, diperlukan sebuah nyawa."



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berkomentarlah dengan bijak. :)